Modul 3.1.a.8.1. Koneksi Antar Materi
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
- Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap
Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Jawaban:
Asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai Pratap Triloka
dicetuskan oleh R. M. Suwardi Suryaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hadjar
Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia saat mendirikan Perguruan Nasional Taman
Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa) pada tahun 1922, Pratap
Triloka kian membumi seiring Giat Pendidikan Guru Penggerak yang terus saja menggeliatkan
pemikiran KHD tersebut sebagai “Energi positif” yang coba diserap Guru sebagai Pemimpin
Pembelajaran.
Pratap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat
ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung
tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan- semboyan
tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun
motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”.
Sejarah perkembangan pendidikan Indonesaia, Patrap Triloka dengan
segala fleksibilitasnya hingga kini memasuki hitungan lebih dari sembilan dasawarsa, semboyan
tersebut masih tetap adaptable di tengah arus globalisasi dan perkembangan
teknologi digital yang sangat deras. terutama pada kondisi-kondisi dimana Guru
sebagai pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan dari berbagai kasus
dilematika., semboyan tersebut mengarahkan penyelesaian secara bijaksana
berasaskan “Memanusiakan Manusia”.
Dan, dalam perjalanan pengabdian
saya hingga kini, Pratap Triloka membawa
pengaruh sangat besar dalam proses pengambilan keputusan yang telah saya lakukan. Disadari atau tidak, keputusan
yang dibuat harus mencerminkan keputusan seorang pemimpin yang bisa memberi teladan
dan berpihak pada murid, setiap keputusan yang diambil sejatinya memberikan
dorongan semangat yang besar terhadap murid ataupun terhadap lingkungan..
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh
kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Jawaban:
Pengambilan
keputusan sangat tergantung pada konteks kapan, dimana dan situasi keputusan
itu diambil. Tidak masalah metode dan tools apa yang digunakan untuk
menghasilkan sebuah keputusan, intinya adalah bagaimana menyelesaikan
permasalahan dengan cara yang baik sehingga menimbulkan efek konsekuensi yang
baik pula.
Karena
efek konsekuensi ini pula, seorang guru harus bisa memastikan nilai-nilai diri
yang dilibatkan dalam pengambilan suatu keputusan berupa nilai-nilai kebajikan,
keteladanan serta motivasi sebagaimana Nilai-nilai dan. peran Guru Penggerak ( Mandiri, Kolaboratif,
Reflektif dan Berpihak Pada berpihak pada murid), sehingga keputusan yang
dihasilkan orientasnya jelas untuk murid dan pada akhirnya keputusan tersebut
bisa dipertanggungjawabkan secara norma ataupun secara moral.
Dari beberapa paradigma serta
prinsip pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana
nilai-nilai yang melekat pada diri seseorang yang juga banyak dipengaruhi oleh
budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam menentukan
prinsip-prinsip yang akan diterapkan berdasarkan 3 prinsip, yaitu :
1. Berpikir Berbasis
Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis
Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis
Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
.
- Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam
pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan
keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam
diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa
dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Jawaban:
Saya mencermati 9 Langkah
pengujian pada Modul 3 sebagai bagian dari aktivitas coaching. Pertanyaan-pertanyaan
reflektif yang terbangun lewat dialog-dialog pada diri saat mengikuti tahapan 9”
merupakan coaching pribadi. Penggalian potensi keputusan lewat tehnik bertanya
dan mendengarkan (kata hati ) adalah tindakan efektif dan sangat tepat
dilakukan sebelum pengambilan keputusan. Hal ini penting agar nantinya tidak
ada lagi keraguan ataupun penyesalan terhadap keputusan yang diambil
- Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau
etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Jawaban:
Pembahasan studi kasus yang telah
dilakukan tentang moral dan etika, memang menjadi sesuatu yang sering atau bisa
saja terjadi dan menjadi dilematik. Pada kondisi seperti ini, nilai-nilai yang melekat
pada diri seorang pendidiklah yang berpengaruh
paling besar terhadap pengambilan keputusan.
Beragam alternative bisa muncul sebagai penyelesaian namun bagi saya pedomannya
tetap akan mengarah pada butir-butir
Pratap Triloka; keputusan tersebut harus memberi keleladanan, memotivasi dan
sebagai bentuk dukungan terhadap keputusan itu sendiri. Nilai-nilai kebajikan
inilah yang harus dimiliki oleh setiap pendidik agar tidak membuat keputusan
yang akan disesali nantinya.
Bagaimana pengambilan
keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman.
Jawaban:
Pengambilan keputusan yang tepat kembali
pada Prinsip KHD dengan Pratap Triloka menuntun, mendorong, dan memberi
keleladanan sehingga keputusan yang diambil terkait kasus dilema etika-moral,
lahir dari nilai-nilai diri yang berpihak pada murid tidak bertentangan dengan
norma, Budaya (Budaya Siriq) Malu yang menjadi bagian dari Budaya Sekolah, sekaligus
menjadi implementasi Nilai-nilai Guru Penggerak selaras dengan nilai-nilai agama yang kita anut hingga
akhirnya pengambilan keputusan tersebut berdampak pada terciptanya lingkungan
yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi murid dan dan seluruh ekosisten
sekolah..
- Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang
sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Jawaban:
Kesulitan dan kemudahan seperti 2
sisi mata uang yang tak terpisahkan. Demikian juga yang terjadi pada proses
pengambilan keputusan, Perubahan paradigma di Slingkungan cukup berkonstribusi
dalam rangka menetapkan sebuat keputusan. Ada pertentangan saat menentukan
sebuah kasus termasuk bujukan moral atau dilemma etika, meskipun secara teori
dan defenisi jelas perbedaannya. Ada kekhawatiran memilih antara keputusan yang
satu dengan yang lainnya termasuk trilemma yang masih berupa konsep di kepala..
Namun kenyataan di lapangan seringkali menyuguhkan pertentangan bathin ketika
akan mengambil keputusan. Sekali lagi hal-hal seperti ini sering terjadi.namun
saya sanagt terbantu dengan adanya modul 3 ini, kesulitan-kesulitan tersebut
bisa diatasi dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian yang
diharapkan bisa memaksimalkan tujuan pengambilan keputusan .
- Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita
ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Jawaban:
Seberapa besar pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita ? Dampaknya akan sangat besar
jika semua pendidik di sekolah berkolaborasi dan berkomitmen menjadikan
pengambilan keputusan sebagai salah satu pendekatan laiknya pembelajaran deferensiasi,
coaching atau sebagai pemebelajaran KSE yang harus dilaksanakan secara
konsisten dengan Tekad “Menghamba pada Anak” dalam konteks “Merdeka Belajar “
bagi setiap individu murid.
- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan
dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Jawaban:
Kesempatan ini sangat mungkin
diwujudkan di tangan Guru sebagai pemimpin pembelajaran sesuai defenisi pendidikan
KHD” Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada
anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya “
Guru selalu ada dan bersama
murid-muridnya dalam konteks pendidikan, dan dalam kebersamaan tersebut
Keputusan yang diambil oleh seorang guru jelas berpengaruh secara langsung
terhadap murid sebagai bagian dari proses sekaligus tujuan akhir dari pengambilan
keputusan.
Mengutip kata Dirjen GTK
Kemdikbud Irwan Syahril:
“Memutuskan menjadi guru, berarti
teken kontrak untuk menjadi teladan”, Nilai-nilai dalam diri seorang pendidik, konsisten,
sikap disiplin dan komitmen terhadap keputusan yang telah diambil, akan menjadi
salah satu tolok ukur dan menjadi teladan
bagi murid, sekaligus memberi contoh dan terus memotivasi serta memberi
dukungan terhadap murid dalam meraih masa depan yang gemilang.
- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
Jawaban:
Guru adalah seorang pemimpin
pembelajaran,.Dalam menjalankan misinya tersebut hendaknya mampu menerapkan
Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan di era habitus seperti
sekarang ini.dengan mengedepankan nilai-niai Guru Penggerak yang dikolaborasi
dengan budaya sekolah.
Dalam konsep pengambilan
keputusan guru bisa memvariasikan keterampilan Coaching dan pembelajaran KSE dengan
4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dalam menganalisis kasus dilema
etika yang dihadapi. Sebelum pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, keputusan yang diambil hendaknya berdasarkan nilai-nilai kebaikan dan bermanfaat, berorientasi pada murid dan bisa dipertanggungjawabkan sesuai norma dan budaya.
Dan seperti mata rantai, modul 3 ini sangat terasa keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya, berdasar pada nilai- nilai kebajikan, berorientasi pada murid dalam rangka mewujudkan profil pelajar pancasila yang Merdeka Belajar.
Keren sekali, sangat jelas bisa jadi referensi untuk cgp yang lain
BalasHapusTerimakasih, CGP Hebat #Arisal
HapusMantap n keren ibu
BalasHapusTerimaksih CGP Hebat, adik Yani
BalasHapusLuar biasa kanda
BalasHapus