Senin, 12 April 2021

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran ( 3.1. a. 8. 1)

 

Modul 3.1.a.8.1. Koneksi Antar Materi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Jawaban:

Asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai Pratap Triloka dicetuskan oleh R. M. Suwardi Suryaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia saat mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa) pada tahun 1922, Pratap Triloka kian membumi seiring Giat Pendidikan Guru Penggerak yang terus saja menggeliatkan pemikiran KHD tersebut sebagai “Energi positif” yang coba diserap Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Pratap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan- semboyan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”.

Sejarah perkembangan pendidikan Indonesaia, Patrap Triloka dengan segala fleksibilitasnya hingga kini memasuki hitungan  lebih dari sembilan dasawarsa, semboyan tersebut masih tetap adaptable di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang sangat deras. terutama pada kondisi-kondisi dimana Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan dari berbagai kasus dilematika., semboyan tersebut mengarahkan penyelesaian secara bijaksana berasaskan “Memanusiakan Manusia”.

Dan, dalam perjalanan pengabdian saya hingga kini,  Pratap Triloka membawa pengaruh sangat besar dalam proses pengambilan keputusan yang telah  saya lakukan. Disadari atau tidak, keputusan yang dibuat harus mencerminkan keputusan seorang pemimpin yang bisa memberi teladan dan berpihak pada murid, setiap keputusan yang diambil sejatinya memberikan dorongan semangat yang besar terhadap murid ataupun terhadap lingkungan..

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Jawaban:

Pengambilan keputusan sangat tergantung pada konteks kapan, dimana dan situasi keputusan itu diambil. Tidak masalah metode dan tools apa yang digunakan untuk menghasilkan sebuah keputusan, intinya adalah bagaimana menyelesaikan permasalahan dengan cara yang baik sehingga menimbulkan efek konsekuensi yang baik pula.

Karena efek konsekuensi ini pula, seorang guru harus bisa memastikan nilai-nilai diri yang dilibatkan dalam pengambilan suatu keputusan berupa nilai-nilai kebajikan, keteladanan serta motivasi sebagaimana Nilai-nilai  dan. peran Guru Penggerak ( Mandiri, Kolaboratif, Reflektif dan Berpihak Pada berpihak pada murid), sehingga keputusan yang dihasilkan orientasnya jelas untuk murid dan pada akhirnya keputusan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara norma ataupun secara moral.

Dari beberapa paradigma serta prinsip pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana nilai-nilai yang melekat pada diri seseorang yang juga banyak dipengaruhi oleh budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam menentukan prinsip-prinsip yang akan diterapkan berdasarkan 3 prinsip, yaitu :

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

.

  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Jawaban:

Saya mencermati 9 Langkah pengujian pada Modul 3 sebagai bagian dari aktivitas coaching. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terbangun lewat dialog-dialog pada diri saat mengikuti tahapan 9” merupakan coaching pribadi. Penggalian potensi keputusan lewat tehnik bertanya dan mendengarkan (kata hati ) adalah tindakan efektif dan  sangat tepat dilakukan sebelum pengambilan keputusan. Hal ini penting agar nantinya tidak ada lagi keraguan ataupun penyesalan terhadap keputusan yang diambil

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Jawaban:

Pembahasan studi kasus yang telah dilakukan tentang moral dan etika, memang menjadi sesuatu yang sering atau bisa saja terjadi dan menjadi dilematik. Pada kondisi seperti ini, nilai-nilai yang melekat pada diri seorang pendidiklah yang berpengaruh paling  besar terhadap pengambilan keputusan. Beragam alternative bisa muncul sebagai penyelesaian namun bagi saya pedomannya tetap akan mengarah  pada butir-butir Pratap Triloka; keputusan tersebut harus memberi keleladanan, memotivasi dan sebagai bentuk dukungan terhadap keputusan itu sendiri. Nilai-nilai kebajikan inilah yang harus dimiliki oleh setiap pendidik agar tidak membuat keputusan yang akan disesali nantinya.

  Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Jawaban:

Pengambilan keputusan yang tepat kembali pada Prinsip KHD dengan Pratap Triloka menuntun, mendorong, dan memberi keleladanan sehingga keputusan yang diambil terkait kasus dilema etika-moral, lahir dari nilai-nilai diri yang berpihak pada murid tidak bertentangan dengan norma, Budaya (Budaya Siriq) Malu yang menjadi bagian dari Budaya Sekolah, sekaligus menjadi implementasi Nilai-nilai Guru Penggerak selaras dengan  nilai-nilai agama yang kita anut hingga akhirnya pengambilan keputusan tersebut berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi murid dan dan seluruh ekosisten sekolah..

  • Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban:

Kesulitan dan kemudahan seperti 2 sisi mata uang yang tak terpisahkan. Demikian juga yang terjadi pada proses pengambilan keputusan, Perubahan paradigma di Slingkungan cukup berkonstribusi dalam rangka menetapkan sebuat keputusan. Ada pertentangan saat menentukan sebuah kasus termasuk bujukan moral atau dilemma etika, meskipun secara teori dan defenisi jelas perbedaannya. Ada kekhawatiran memilih antara keputusan yang satu dengan yang lainnya termasuk trilemma yang masih berupa konsep di kepala.. Namun kenyataan di lapangan seringkali menyuguhkan pertentangan bathin ketika akan mengambil keputusan. Sekali lagi hal-hal seperti ini sering terjadi.namun saya sanagt terbantu dengan adanya modul 3 ini, kesulitan-kesulitan tersebut bisa diatasi dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian yang diharapkan bisa memaksimalkan tujuan pengambilan keputusan .

  • Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Jawaban:

Seberapa besar pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita ? Dampaknya akan sangat besar jika semua pendidik di sekolah berkolaborasi dan berkomitmen menjadikan pengambilan keputusan sebagai salah satu pendekatan laiknya pembelajaran deferensiasi, coaching atau sebagai pemebelajaran KSE yang harus dilaksanakan secara konsisten dengan Tekad “Menghamba pada Anak” dalam konteks “Merdeka Belajar “ bagi setiap individu murid.

  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Jawaban:

Kesempatan ini sangat mungkin diwujudkan di tangan Guru sebagai pemimpin pembelajaran sesuai defenisi pendidikan KHD” Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya  

Guru selalu ada dan bersama murid-muridnya dalam konteks pendidikan, dan dalam kebersamaan tersebut Keputusan yang diambil oleh seorang guru jelas berpengaruh secara langsung terhadap murid sebagai bagian dari proses sekaligus tujuan akhir dari pengambilan keputusan.

Mengutip kata Dirjen GTK Kemdikbud Irwan Syahril:

“Memutuskan menjadi guru, berarti teken kontrak untuk menjadi teladan”, Nilai-nilai dalam diri seorang pendidik, konsisten, sikap disiplin dan komitmen terhadap keputusan yang telah diambil, akan menjadi salah satu tolok ukur dan menjadi  teladan bagi murid, sekaligus memberi contoh dan terus memotivasi serta memberi dukungan terhadap murid dalam meraih masa depan yang gemilang.   

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Jawaban:

Guru adalah seorang pemimpin pembelajaran,.Dalam menjalankan misinya tersebut hendaknya mampu menerapkan Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan di era habitus seperti sekarang ini.dengan mengedepankan nilai-niai Guru Penggerak yang dikolaborasi dengan budaya sekolah.

Dalam konsep pengambilan keputusan guru bisa memvariasikan keterampilan Coaching dan pembelajaran KSE dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dalam menganalisis kasus dilema etika yang dihadapi. Sebelum pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, keputusan yang diambil hendaknya berdasarkan nilai-nilai kebaikan dan bermanfaat, berorientasi pada murid dan bisa dipertanggungjawabkan sesuai norma dan budaya.

Dan seperti mata rantai, modul 3 ini sangat terasa keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya, berdasar pada nilai- nilai kebajikan, berorientasi pada murid dalam rangka mewujudkan profil pelajar pancasila yang Merdeka Belajar.

 

 

 

 

5 komentar: