Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
Program Serentak Budaya Literasi, (GESER BULI)
di SD Negeri 023 Dara
youtube; https://youtu.be/rHR_sNBBoO8
Menerapkan empat komponen dalam
kerangka 4P (4F) pada praktik Pengelolaan Program yang Berdamapak pada Murid
1. Komponen Peristiwa (Fact)
a.
Latar Belakang tentang situasi yang
dihadapi
Literasi
seringkali dihubungkan dengan Peradaban suatu bangsa. Dengan kemampuan literasi
yang baik maka ilmu pengetahuan dan teknologi akan dikuasai dengan baik pula.
Kesadaran berliterasi setiap individu tidak hanya berdampak pada dirinya
sendiri tetapi juga pada peradaban bangsa. Bahwasanya, “literasi” adalah Dasar ilmu pengetahuan dan teknologi itu
“Benar”. Olehnya itu, penting menanamkan kebiasaan-kebiasaan terkait literasi
kepada peserta didik sedini mungkin agar mereka terbiasa dan bisa memahami
lebih awal pentingnya aktif berliterasi.
Berdasarkan
PISA (2018), indeks baca anak Indonesia peringkat 60 dari 61 negara. Data
tersebut menggambarkan kemampuan literasi anak Indonesia yang memprihatinkan. Gambaran
tentang Indeks baca anak Indonesia juga menjadi gambaran Indeks baca
murid-murid saya di SD Negeri 023 Dara.
Dari 192 anak yang tercatat sebagai murid, sangat jarang yang berkunjung
ke perpustakaan untuk membaca atau meminjam buku. Kesimpulan yang bisa saya
tuliskan sebagai hasil pengamatan selama ini, minat baca murid dan tendik
kurang, sumber daya sekolah tidak dikelola secara
efektif untuk melaksanakan program sekolah yang berdampak pada murid,
hal ini terlihat dari banyak buku-buku di perpustakaan yang
tidak tersentuh, dan Peran Guru Penggerak sebagai pemimpin yang
dapat menggerakkan komunitas dan lingkungan sekolah serta masyarakat
Saya
memprediksi Program GESER BULI akan membawa pengaruh terhadap perubahan perilaku membaca dari murid dan tendik jika
dilaksanakan secara berkesiambungan.
Yang membuat saya terkesan, saat pertama menata ruang dan wahana baca, murid-murid memperlihatkan rasa ingin tahu yang tinggi, terlebih saat dilibatkan untuk memilih bacaan dan memilih spot membaca. Lumayan mengejutkan saat mereka mulai menyebutkan tempat-tempat menyimpan buku bacaan agar dimanapun bisa terjangkau oleh mereka, seperti digantung didahan pohon,bahkan di kantin, Waow ! mereka kegirangan. Mereka juga seang karena diperbolehkan membawa pulang buku cerita sampai 3 buku dalam seminggu.
Moment kritis terjadi saat beberapa
murid sudah menyelesaikan bacaan sampai 3 buah buku namun tidak bisa menuliskan
1 pun sinopsis dari cerita yang dibacanya. Sebagian lagi ada yang hanya menulis
2 sampai 4 paragraf untuk 1 buah buku !
Yang terjadi selanjutnya, wali kelas
memberikan bimbingan tentang tulisan sederhana dengan menggunakan alur “adik
simba” ( apa?, di mana?, kapan?, Siapa ?,
mengapa? dan bagaimana?) terhadap murid-murid tersebut meski sebelumnya
wali kelas sudah memberikan arahan menulis namun belum memberikan alur sebagai
rujukan.
Hal yang paling memengaruhi sikap dan
perilaku saya adalah antusias murid-murid pada saat mengikuti Program, meski
ada juga yang terkesan tidak peduli dengan perubahan di sekelilingnya. Selain
itu, kolaborasi yang terbangun antara teman sejawat juga membuat saya kian
bersemangat dan yakin program ini tepat sasaran.
Saya berharap Program “Geser Buli” bisa dilaksanakan secara
berkesinambungan dan di dorong menjadi salah satu budaya sekolah.
b.
Yang
dilakukan pada Aksi Nyata dan Alasan mengapa melakukan aksi tersebut.
Ø Yang dilakukan pada Aksi Nyata
a.
Kegiatan
ini dipimpin oleh masing-masing ketua kelas bergiliran dengan murid-murid
sesuai urutan nama yang tertera pada daftar hadir dengan penanggung jawab wali
kelas / guru mata pelajaran yang mengajar pada jam pertama.
b. Kelas
1&2, atau bagi murid yang belum lancar
membaca akan diberikan gambar bercerita selanjutnya Guru akan
mendampingi murid secara bergiliran untuk menceritakan ulang dengan menggunakan
kata-kata sendiri.
c. Kelas
3,4,5,dan 6 akan mengikuti Program “ Gerakan Serentak Budaya Literasi” secara
utuh
d.
Pada
kegiatan ini seluruh PTK dilibatkan untuk membantu mengawasi proses kegiatan
literasi tersebut yang dilakaukan secara serentak sebagai sebuah gerakan
inovasi agar dapat berjalan dengan baik sehingga ke depannya bisa menjadi sebuah budaya bagi seluruh warga
sekolah
e. Khusus
hari Jumat materinya adalah Literasi Al-Qur-an bagi yang muslim dan bagi murid
non muslim membaca buku fiksi atau non fiksi seperti biasa
f. Khusus
hari Sabtu, Literasi Karya dengan durasi waktu 1 jam. Kegiatan literasi dilakukan di halaman
sekolah dengan menggelar tikar dan menghadirkan Komite sekolah dan pegiat literasi dari komunitas-komunitas baca
di wilayah Polewali termasuk Duta Baca Sulbar.
Pada
kegiatan ini semua murid membaca koran, artikel atau majalah dari rumah atau
mengambil koran atau majalah di perpustakaan bagi yang tidak berlangganan media
cetak. Setelah membaca, murid-murid
menggunting berita yang menarik buat mereka kemudian di pasang di Mading,
guntingan koran yang lain dijadikan karya daur ulang.
Ø
Murid
menyimak presentasi dari Duta Baca Sulbar.
Ø
Pelaksanaan
puncak Program dengan menggelar pameran dan lomba literasi dilksanakan pada
Hari Senin, 28 Juni 2021 dengan melibatkan 4 kelompok Mading perwakilan Kelas
4,5,dan 6 yang masih-masing terdiri dari 5 orang murid, 9 orang peserta lomba
menulis cerita rakyat dari Kelas 4,5,6 serta 10 orang murid peserta lomba baca
puisi dari Kelas, 2 dan 3.
Tim Juri
berasal dari komunitas literasi Tingkat, Duta Baca Sulawesi Barat, Jurnalis Harian Radar SulBar dan Komunitas Guru Penggerak. ,
Ø
Mengirimkan
karya terpilih murid ke Medsos.
Alasan mengapa melakukan aksi tersebut
Gerakan
literasi tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan. Di dalam dokumen deklarasi yang
bertajuk Towards an Information Literate Society dinyatakan secara tegas
bahwa literasi informasi harus menjadi bagian integral dalam pendidikan.
Penguasaan literasi berkontribusi penting dalam pencapaian tujuan pembangunan
milenium PBB dan menghormati deklarasi universal Hak Azasi Manusia (HAM).
Pada kenyataanya, murid kelas 1-6 di sekolah saya memang sudah banyak yang bisa membaca. Ironisnya, banyak diantara murid-murid tersebut yang tidak memahami apa yang mereka baca. Pada titik ini, kecakapan literasi murid perlu dikembangkan.
Hidup di abad 21 adalah hidup di era informasi. Keterbukaan informasi yang
nyaris tanpa batas menjadikan murid mesti berkecakapan literasi. Ragam mata
pelajaran mengharuskan murid mampu membaca dengan baik. Untuk itulah kecakapan
literasi menjadi penting. Literasi membantu murid memahami pesan lisan,
tulisan, audio, maupun gambar atau visual. Dengan demikian, semakin baik
literasi murid, semakin baik pula prestasi belajarnya.
c.
Hasil
Aksi Nyata yang dilakukan
Setelah melakukan aksi Nyata selama kurang lebih 1 (satu) bulan lamanya, maka didapatkan hasil Program sebagai berikut ;
- Sebagian besar murid murid aktif membaca 10
menit sebelum pembelajaran dimulai namun ada juga murid terlambat bergabung dalam
kegiatan bahkan ada yang tidak mengikuti kegiatan literasi karena waktunya sudah
selesai,
- Murid antusias mengikuti kegiatan literasi, namun ada juga yang tidak disiplin dan
mengganggu atau mengajak bercanda teman yang sedang membaca,
- Ada
beberapa murid yang terlambat mengumpulkan tugas tapi lebih banyak yang tepat waktu menyerahkan tugas terkait kegiatan
literasi,
- Ada
beberapa murid yang tidak percaya diri dan enggan maju membacakan/menceritakan
kesimpulan yang menjadi catatan literasinya
-
Jumlah
murid yang bergabung dan aktif di komunitas Gemar Membaca bertambah 30 orang
-
Murid Kelas 4,5,6 menghasilkan 3 karya (puisi,
cerita rakyat,cergam)
-
Murid
lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun Mading
- Terpilihnya Duta Baca Cilik
Perasaan (Feeling)
Saya
merasa sangat senang dan antusias saat melaksanakan Aksi Nyata Modul 3.3. Senang bisa mengajak murid
dan tendik untuk bersama-sama mengenal dan lebih mendalami kegaiatan literasi,
utamanya kegiatan membaca, menulis dan berbicara. Sangat menyenangkan melihat
murid-murid antusias memilih buku bacaan untuk kemudian di baca di tempat yang
mereka senangi, selanjutnya mereka menuliskan hal-hal menarik yang mereka
temukan di buku catatan khusus untuk kegiatan literasi, atau menulis ulang
cerita yang dibaca dengan menggunakan kata-kata sendiri, rasanya saya telah membawa
mereka selangkah lebih maju dari kondisi sebelumya.
Saya juga merasa terharu dan bangga, ketika
murid mulai berani unjuk tangan menyampaikan hasil tulisan/bacaan di depan teman-temannya
di dalam kelas, atau
secara bergantian maju bercerita di depan kelas dengan malu-malu atau dengan
penuh percaya diri. Pada
titik ini saya merasa telah mengekspresikan
perasaan ketika memotivasi dan memberi penguatan kepada mereka
sehingga mereka bisa mengikuti rangkaian kegiatan dengan senang hati. Program
ini diharapkan dapat menumbuhkan kemampuan kognitif murid untuk berpikir secara
ilmiah dan mereview apa yang telah mereka baca /tulis.
Temuan (Finding).
Pelaksanaan
Program menjelang Pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) mengakibatkan program
tidak terlaksana secara optimal, di samping itu beberapa murid yang terlambat
datang ke sekolah tidak bisa mengikuti kegiatan literasi karena waktunya telah
berakhir dan waktu untuk pembelajaran Tematik sudah harus dimulai. Masih
ditemukan juga beberapa murid yang kurang disiplin dan mengganggu teman saat
mengikuti kegiatan. Semua ini memengaruhi keberhasilan capaian Program secara
keseluruhan, karena murid-murid tersebut akan ketinggalan ketika akan
melanjutkan ke kegiatan berikutnya.
Di sisi lain ada peluang yang terlewatkan yaitu, pendampingan orang tua di rumah yang tidak bisa dilakukan oleh beberapa orang tua murid karena kesibukan bekerja. Semua itu memengaruhi keberhasilan Program Geser Buli.
Namun
demikian secara keseluruhan, Program
terlaksana dengan baik, hasilnyapun bisa dilihat dari perubahan
perilaku membaca murid dan tendik yang kian meningkat bahkan beberapa karya seperti puisi, cerita
rakyat , cergam dan Mading lahir dari program yang membuat murid-murid kian antusias
dan bersemangat.
Program Geser Buli juga telah melahirkan Duta
Baca Cilik.
Penerapan Depan (Future).
Bayangan saya terhadap capaian program di masa depan, murid memiliki semangat belajar yang tinggi dan berbudaya literasi, gemar membaca dan akrab dengan bacaan tanpa diperintah atau diarahkan, kritis, kreatif mandiri dan percaya diri.
Beberapa perubahan positif mulai terlihat. Secara perlahan perhatian dan minat mereka untuk membaca mengarahkan mereka untuk mencari buku-buku bacaan. Perpustakaan mulai didatangi anak-anak secara bergiliran untuk meminjam atau menukar buku bacaan yang telah mereka baca.
Mereka
mulai bisa menentukan pilihan untuk buku-buku yang mereka sukai termasuk alasan
menyukai buku tersebut.
Demi mempertahankan kondisi yang sudah mulai membaik, saya mencoba untuk berkolaborasi dengan teman sejawat serta seluruh tendik untuk memberi keteladanan kepada murid dan terus memotivasi dan mendampingi murid secara maksimal pada setiap kegiatan literasi, dengan harapan segala temuan yang didapatkan dalam program Geser Buli ini akan berjalan dengan baik.
Rencana
yang akan dilakukan untuk masa depan akan menegembangkan komunitas Gemar Membaca dan komuitas penulis cilik,
sehingga terlahir anak-anak yang literat, pembelajar, kritis,
kreatif dan visioner serta
mampu beradaptasi dengan kehidupan sesuai dengan perkembangan zaman dan
kodratnya sebagai seorang pemimpin kelak sehingga terwujud Profil Pelajar
Pancasila yang sebenarnya.
Dokumentasi
Kegiatan:
Sosialisasi dan gambaran secara umum Program Geser Buli.











Kereen Programnya Kakak Kepsek, bisa jdi Referensi untuk sekolab saya di Pegunungan. Terus melakukan Praktik baik untuk memajukan Pendidikan lebih baik menuju profil pelajar pancasila
BalasHapusTerimakasih dek,
Hapusayo smangat2, mari berbagi praktik baik.,