Senin, 12 April 2021

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran ( 3.1. a. 8. 1)

 

Modul 3.1.a.8.1. Koneksi Antar Materi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Jawaban:

Asas-asas pendidikan yang kerap kita kenal sebagai Pratap Triloka dicetuskan oleh R. M. Suwardi Suryaningrat yang kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia saat mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa) pada tahun 1922, Pratap Triloka kian membumi seiring Giat Pendidikan Guru Penggerak yang terus saja menggeliatkan pemikiran KHD tersebut sebagai “Energi positif” yang coba diserap Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran.

Pratap triloka terdiri atas tiga semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan di dunia pendidikan Indonesia: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan- semboyan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”.

Sejarah perkembangan pendidikan Indonesaia, Patrap Triloka dengan segala fleksibilitasnya hingga kini memasuki hitungan  lebih dari sembilan dasawarsa, semboyan tersebut masih tetap adaptable di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital yang sangat deras. terutama pada kondisi-kondisi dimana Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan dari berbagai kasus dilematika., semboyan tersebut mengarahkan penyelesaian secara bijaksana berasaskan “Memanusiakan Manusia”.

Dan, dalam perjalanan pengabdian saya hingga kini,  Pratap Triloka membawa pengaruh sangat besar dalam proses pengambilan keputusan yang telah  saya lakukan. Disadari atau tidak, keputusan yang dibuat harus mencerminkan keputusan seorang pemimpin yang bisa memberi teladan dan berpihak pada murid, setiap keputusan yang diambil sejatinya memberikan dorongan semangat yang besar terhadap murid ataupun terhadap lingkungan..

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Jawaban:

Pengambilan keputusan sangat tergantung pada konteks kapan, dimana dan situasi keputusan itu diambil. Tidak masalah metode dan tools apa yang digunakan untuk menghasilkan sebuah keputusan, intinya adalah bagaimana menyelesaikan permasalahan dengan cara yang baik sehingga menimbulkan efek konsekuensi yang baik pula.

Karena efek konsekuensi ini pula, seorang guru harus bisa memastikan nilai-nilai diri yang dilibatkan dalam pengambilan suatu keputusan berupa nilai-nilai kebajikan, keteladanan serta motivasi sebagaimana Nilai-nilai  dan. peran Guru Penggerak ( Mandiri, Kolaboratif, Reflektif dan Berpihak Pada berpihak pada murid), sehingga keputusan yang dihasilkan orientasnya jelas untuk murid dan pada akhirnya keputusan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara norma ataupun secara moral.

Dari beberapa paradigma serta prinsip pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana nilai-nilai yang melekat pada diri seseorang yang juga banyak dipengaruhi oleh budaya. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam menentukan prinsip-prinsip yang akan diterapkan berdasarkan 3 prinsip, yaitu :

1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

.

  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Jawaban:

Saya mencermati 9 Langkah pengujian pada Modul 3 sebagai bagian dari aktivitas coaching. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terbangun lewat dialog-dialog pada diri saat mengikuti tahapan 9” merupakan coaching pribadi. Penggalian potensi keputusan lewat tehnik bertanya dan mendengarkan (kata hati ) adalah tindakan efektif dan  sangat tepat dilakukan sebelum pengambilan keputusan. Hal ini penting agar nantinya tidak ada lagi keraguan ataupun penyesalan terhadap keputusan yang diambil

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Jawaban:

Pembahasan studi kasus yang telah dilakukan tentang moral dan etika, memang menjadi sesuatu yang sering atau bisa saja terjadi dan menjadi dilematik. Pada kondisi seperti ini, nilai-nilai yang melekat pada diri seorang pendidiklah yang berpengaruh paling  besar terhadap pengambilan keputusan. Beragam alternative bisa muncul sebagai penyelesaian namun bagi saya pedomannya tetap akan mengarah  pada butir-butir Pratap Triloka; keputusan tersebut harus memberi keleladanan, memotivasi dan sebagai bentuk dukungan terhadap keputusan itu sendiri. Nilai-nilai kebajikan inilah yang harus dimiliki oleh setiap pendidik agar tidak membuat keputusan yang akan disesali nantinya.

  Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Jawaban:

Pengambilan keputusan yang tepat kembali pada Prinsip KHD dengan Pratap Triloka menuntun, mendorong, dan memberi keleladanan sehingga keputusan yang diambil terkait kasus dilema etika-moral, lahir dari nilai-nilai diri yang berpihak pada murid tidak bertentangan dengan norma, Budaya (Budaya Siriq) Malu yang menjadi bagian dari Budaya Sekolah, sekaligus menjadi implementasi Nilai-nilai Guru Penggerak selaras dengan  nilai-nilai agama yang kita anut hingga akhirnya pengambilan keputusan tersebut berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi murid dan dan seluruh ekosisten sekolah..

  • Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban:

Kesulitan dan kemudahan seperti 2 sisi mata uang yang tak terpisahkan. Demikian juga yang terjadi pada proses pengambilan keputusan, Perubahan paradigma di Slingkungan cukup berkonstribusi dalam rangka menetapkan sebuat keputusan. Ada pertentangan saat menentukan sebuah kasus termasuk bujukan moral atau dilemma etika, meskipun secara teori dan defenisi jelas perbedaannya. Ada kekhawatiran memilih antara keputusan yang satu dengan yang lainnya termasuk trilemma yang masih berupa konsep di kepala.. Namun kenyataan di lapangan seringkali menyuguhkan pertentangan bathin ketika akan mengambil keputusan. Sekali lagi hal-hal seperti ini sering terjadi.namun saya sanagt terbantu dengan adanya modul 3 ini, kesulitan-kesulitan tersebut bisa diatasi dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian yang diharapkan bisa memaksimalkan tujuan pengambilan keputusan .

  • Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Jawaban:

Seberapa besar pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita ? Dampaknya akan sangat besar jika semua pendidik di sekolah berkolaborasi dan berkomitmen menjadikan pengambilan keputusan sebagai salah satu pendekatan laiknya pembelajaran deferensiasi, coaching atau sebagai pemebelajaran KSE yang harus dilaksanakan secara konsisten dengan Tekad “Menghamba pada Anak” dalam konteks “Merdeka Belajar “ bagi setiap individu murid.

  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Jawaban:

Kesempatan ini sangat mungkin diwujudkan di tangan Guru sebagai pemimpin pembelajaran sesuai defenisi pendidikan KHD” Menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya  

Guru selalu ada dan bersama murid-muridnya dalam konteks pendidikan, dan dalam kebersamaan tersebut Keputusan yang diambil oleh seorang guru jelas berpengaruh secara langsung terhadap murid sebagai bagian dari proses sekaligus tujuan akhir dari pengambilan keputusan.

Mengutip kata Dirjen GTK Kemdikbud Irwan Syahril:

“Memutuskan menjadi guru, berarti teken kontrak untuk menjadi teladan”, Nilai-nilai dalam diri seorang pendidik, konsisten, sikap disiplin dan komitmen terhadap keputusan yang telah diambil, akan menjadi salah satu tolok ukur dan menjadi  teladan bagi murid, sekaligus memberi contoh dan terus memotivasi serta memberi dukungan terhadap murid dalam meraih masa depan yang gemilang.   

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Jawaban:

Guru adalah seorang pemimpin pembelajaran,.Dalam menjalankan misinya tersebut hendaknya mampu menerapkan Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan di era habitus seperti sekarang ini.dengan mengedepankan nilai-niai Guru Penggerak yang dikolaborasi dengan budaya sekolah.

Dalam konsep pengambilan keputusan guru bisa memvariasikan keterampilan Coaching dan pembelajaran KSE dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian dalam menganalisis kasus dilema etika yang dihadapi. Sebelum pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, keputusan yang diambil hendaknya berdasarkan nilai-nilai kebaikan dan bermanfaat, berorientasi pada murid dan bisa dipertanggungjawabkan sesuai norma dan budaya.

Dan seperti mata rantai, modul 3 ini sangat terasa keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya, berdasar pada nilai- nilai kebajikan, berorientasi pada murid dalam rangka mewujudkan profil pelajar pancasila yang Merdeka Belajar.

 

 

 

 

Selasa, 06 April 2021

Blog Naratif Modul 3.1.a.7

                        Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Saya awali Jurnal monolog ini dengan mengangkat sebuah kutipan dari ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~ Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.

Pendidikan adalah dunia dengan segala perbaikan yang terus tumbuh dan berposes di dalamnya. Di sini berlangsung proses penumbuhan dan perbaikan perilaku, mengasah kepekaan emosi, transfer pengetahuan serta eksplorasi keterampilan oleh setiap individu murid. Untuk itu dibutuhkan pendekatan dan sentuhan seni yang edukatif dengan kadar yang tepat dalam memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran. Pendidikan berkonstribusi sangat besar dalam pembentukan karakter, agar murid memiliki nilai-nilai kebajikan, sikap dan kepribadian serta berperilaku etis baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat sebagai bagian dari proses belajar dan hasil pendidikan yang telah didapatkan.

Hal prinsip yang sangat berperan dalam pencapaian tujuan seperti yang telah diurai di awal adalah “Pengambilan Keputusan”. Ia Merupakan bagian dari seni yang harus dipelajari, dikaji dan dipraktikkan sehingga sipengambil keputusan (manusia) memiliki perilaku yang baik, berkarakter dan tetap mengedepankan etika dalam mengambil keputusan, sangat  tepat untuk saya pelajari agar bisa  beradaptasi dengan lingkungan baru tempat saya bertugas sekarang, SD Negeri 023 Dara, yang secara budaya dan program pengembangan sekolah sangat berbeda dari sekolah sebelummnya.

Saya beruntung menjadi salah seorang murid Guru Penggerak dimana saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa dalam menghadapi medan dan tantangan berbeda. Hari ini, hampir setengah dari perjalanan Pendidikan Guru Penggerak sudah saya jalani, banyak sekali ilmu baru yang sudah saya pelajari, analisis dan terapkan. Membangun dan berkonstribusi dalam komunitas praktisi juga menjadi salah satu point Plus. Saya  terharu melihat teman-teman mulai focus dan  berorientasi pada murid di setiap program pembelajaran Mereka kini lebih terbuka dan bisa berkolaborasi. Amazing kan ?

Namun tidak berarti semua berjalan baik-baik saja. Beberapa hal terjadi dan tidak sesuai eskpektasi, bahkan menjadi sebuah masalah. Dan ini terjadi tidak sekali dua, olehnya itu saya harus mencari solusi dengan cara tidak asal dalam mengambil keputusan. Kadang terpikirkan oleh saya, “Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?”, Yang pasti, saya akan berkomunikasi dengan kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah tentang  program guru penggerak kemudian saya akan membuat program pengimbasan . Konsep tersebut akan saya konsultasikan dengan Kepala sekolah. Saya akan berusaha meyakinkan beliau  terkait program pengimbasan tersebut yang akan diawali dengan sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan di sekolah. Saat Kepala Sekolah memberikan izin, saatnya menjalankan program lewat KKG Mini dengan menghadirkan Pengawas Sekolah, perwakilan komite, Kepala Sekolah dan kolega guru. Disiniah saya akan menerapkan pengetahuan yang saya dapatkan selama ini.

Terus berbincang dengan diri sendiri, muncullah pertanyaan sebagai berikut ?, “Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?”, seperti awal modul, Mulai dari diri, (hehheh). Saya akan   menggunakan salah satu dari 4 paradigma dilema etika, menentukan salah satu dari 3 prinsip (*Kidder, 2009, hal 144) yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan tantangan yang harus dihadapi pada dunia saat ini. Selanjutnya mengikuti 9 langkah dalam mengambil dan menguji keputusan  sekaligus berdiskusi dengan teman CGP lainnya ataupun teman sejawat guna mendengarkan pendapat berbeda selain dari apa yang saya pikir benar.. Dari 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang telah saya pelajari pada modul 3.1. setiap mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sebaiknya melakukan serta mengenali nilai-nilai yang ada menentukan siapa yang terlibat, fakta apa yang relevan, melakukan beberapa pengujian termasuk pengujian paradigma dan melakukan tiga prinsip yang ada,  berkolaborasi bersama rekan sejawat mulai dari perencanaan program, pelaksanaan, hingga proses evaluasi , dan hal ini juga yang akan saya terapkan di komunitas praktisi  sekolah. Bukankah muatan ini sangat  “cool” dibawakan di KKG, hhhehehh.

Sisi penasaran dalam diri saya terus mengejar,  “Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa?”, Rencananya program pengimbasan  melalui KKG Mini di sekolah, Insya Allah akan dilakukan pada Hari Senin, 5 April 2021. Ada 2 kelompok yang terdiri dari Guru Kelas Awal  (1,2 dan 3), serta Kelas lanjutan  (4, 5 dan 6), dengan masing-masing 1 kasus yang akan dianalisis sesuai petunjuk modul.

 “Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif”, Alhamdulillah, sejak awal Kepala Sekolah sangat merespon semua kegiatan terkait Guru Penggerak dan beliau secara langsung menyatakan kesiapan untuk mendampingi saya dalam menerapkan Pengambilan Keputusan, saya juga akan  melibatkan komunitas praktisi untuk  refleksi, melihat efektivitas  keputusan yang saya ambil .

Hal paling menarik yang rasakan adalah suguhan-suguhan LMS yang  kian menantang dan mendebarkan, Sungguh, dan saya menikmatinya ! Selalu ada hal baru yang membuat saya merasa lebih berisi dari LMS ke LMS hehehhehe.  Sumpah!

Hmm,setelah ini apa lagi ya? 

Love You, PGP. Titik !

Senin, 05 April 2021

3.1.a.6 Refleksi Terbimbing-

 

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran


Pertanyaan pemantik untuk sesi pembelajaran ini:

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Pendapat saya tentang kutipan “Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis;”

Pendidikan adalah dunia dengan segala perbaikan yang terus tumbuh dan berposes di dalamnya. Di sini berlangsung Proses kegiatan belajar mengajar, kegiatan pembimbingan yang mengarahkan  focus dan konsentrasi murid, tehnik dalam mentransfer ilmu pengetahuan serta kemampuan melatih kepekaan, emosi dan keterampilan peserta didik sebagai manusia pembelajar dengan keunikan dan potensinya masing-masing.

Dibutuhkan pendekatan dan sentuhan seni yang edukatif dengan kadar yang tepat dalam memaksimalkan pencapaian tujuan akhir disetiap proses pembelajaran.

Pendidikan berkonstribusi sangat besar dalam pembentukan karakter, agar murid memiliki nilai-nilai kebajikan, sikap dan kepribadian serta berperilaku etis baik sebagai makhluk individu mapun sebagai makhluk sosial yang bermasyarakat sebagai bagian dari proses belajar dan hasil pendidikan yang telah didapatkan.

Dalam situasi pengambilan keputusan, guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu memiliki kemampuan berpikir sebelum mengambil keputusan, sehingga berdampak kepada hasil akhir dari keputusan tersebut yang dilandasi  pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam kehidupan manusia yang dapat dipertanggung jawabkan serta  tidak melanggar hukum, norma ataupun menyakiti secara moral.

Pengambilan keputusan adalah bagian dari seni yang harus dipelajari, dikaji dan dipraktikkan sehingga si pengambil keputusan atau manusia memiliki perilaku yang baik, berkarakter dan tetap megedepankan etika dalam mengambil keputusan..

Pertanyaan-pertanyaan berikut merupakan panduan yang digunakan dalam sesi refleksi. 

Dari tujuh pertanyaan yang ada, pilihlah minimal empat pertanyaan sebagai bahan refleksi Anda.

Ask :

  1. Bagaimana/sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Ans :

Pemahaman saya tentang konsep-konsep yang sudah dipelajari di modul ini kurang- lebih sama dengan petualangan baru, menarik dan menantang ! Modul keren ini mengantar saya berdiskusi dengan pikiran sekaligus jiwa saya sendiri,tentang pengamatan dalam kemasan pembelajaran, tentang perasaan dan kenyataan, tentang kebenaran dan pembenaran, dan tentang bagaimana menganalisis sebuah kasus dan menghasilkan keputusan yang paling bisa dipertanggungjawabkan secara yuridis, secara norma ataupun secara moral.

Sangat menarik bagi saya mendapatkan beragam hal baru tentang pengetahuan, pemahaman, keterampilan kesadaran dan pengalaman yang mampu mengarahkan focus, melatih berpikir secara konstruktif , namun tetap asyik ! Hal-hal baru diawali dengan mengenali perbedaan dilemma etika dan bujukan moral.

Dilemma etika dimaknai sebagai situasi yang terjadi ketika sesorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan dalam hal ini dilemma etika itu (benar lawan benar), sedangkan bujukan moral yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah dalam hal ini bujukan moral itu (benar melawan salah). Pemahaman selanjutnya tentang 4 paradigma dalam pengambilan putusan dimana ada nilai-nilai kebijakan yang mendasari dari setiap dilema etika yang dihadapi, ada nilai-nilai yang bertentangan dengan hati nurani dengan keputusan yang akan diambil. Keempat paradigm tersebut yaitu, individu melawan masyarakat, rasa keadilan  lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang. Pemahaman saya selanjutnya tentang 3 prinsip dalam pengambilan keputusan, seorang pemimipin pembelajaran sebelum mengambil keputusan harus memperhatikan ke 3 prinsip tersebut karena kita harus berpikir tentang dampak dan pengaruh dari keputusan tersebut, ke 3 prinsip tersebut yaitu, berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan dan berpikir berbasis rasa peduli, apabila ke 3 prinsip ini dijadikan referensi oleh pemimpin pembelajaran sebelum pengambilan keputusan maka saya yakin keputusan yang diambil sudah tepat dan sudah sesuai. Selanjutnya pemahaman saya tentang 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, hal ini sangat luarbiasa, setelah menerapkan 4 paradigma dalam pengambilan keputusan, selanjutnya menerapkan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan, maka yang tidak kalah penting yaitu keputusan yang telah diambil perlu dilakukan pengujian apakah betul-betul layak atau sesuai atau malah sebaliknya tidak sesuai atau kurang tepat dalam pengambilan keputusan tersebut.

Ada banyak hal tak terduga yang ternyata menjadi bagian tak terencana dalam pengambilan keputusan,  banyak hal-hal yang harus diperhatikan, bukan sekedar sebuah pengambilan keputusan yang instan atau tiba masa tiba akal, melalui pembelajaran di modul ini saya sangat terbantu dan dalam menganalisi kasus dilema etika dan modul ini sangat bermanfaat bagi seorang guru dalam pengambilan keputusan sebagai  pemimpin pembelajaran.

  1. Tuliskan pengalaman Anda dalam menggunakan ketiga materi tersebut dalam proses Anda mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang Anda hadapi selama ini.  Anda dapat juga menulis tentang sebuah situasi dilema etika yang dihadapi oleh orang lain serta keputusan yang diambil. Berilah ulasan berdasarkan 3 materi yang telah Anda pelajari di modul ini.

Ada beberapa kasus dilema etika yang saya alami belakangan ini, salah satunya adalah peristiwa yang terjadi pada hari Jumat kemarin. Sebagai salah seorang murid Pendididikan Guru Penggerak yang harus mengikuti semua proses pembelajaran sesuai jadwal, saya menerima surat tugas untuk mengikuti kegiatan Workshop Produksi Video Pembelajaran selama 2 hari di LPMP SulBar Kabupaten Majene yang jaraknya memakan waktu sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan dari kota Polewali tempat tinggal saya. Diwaktu yang sama kami CGP ada kelas virtual hingga menjelang magrib. Saya betul-betul dilemma,  apakah saya akan berangkat ke Lpmp mengikuti kegiatan Workshop dengan meninggalkan kelas Virtual CGP atau tidak. Dilain sisi, Pemateri Workshop adalah Mas Deni, Terbaik 1 Nasional Duta Rumah Belajar pada tahun 2019 dan selalu menjadi Juri untuk lomba video Nasional. Kapan lagi bisa dapat ilmunya? Tugas-tugas LMS juga banyak yang meminta produk dalam bentuk video.

Apa yang harus saya lakukan ?

Setelah menimbang-nimbang sekian lama, saya kemudian memutuskan untuk menghubungi panitia dan menyatakan kesiapan saya untuk ikut.

Kasus tersebut di atas termasukJangka pendek lawan jangka panjang” (short term vs long term).  Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Ini berkaitan dengan kemampuan menggunakan IT , ini adalah salah satu issue dunia yang mengglobal dan sangat dibutukan sebagai peningkatan kompetensi yang bisa menjadi Skill penguat yang akan maksimalkan kompetensi yang sudah ada sebelumnya.

 

Prinsip Dilema Etika yang saya gunakan adalah erpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

Dengan mengikuti workshop produk video pembelajaran saya beratih memperdalam tehnik-tehnik yang  saya gunakan selama ini dan keterampilan tersebut sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas LMS saya di PGP pada khususnya dan menjadi  keterampilan yang  bisa saya manfaatkan sepanjang karier saya sebagai guru sebagai salah satu peningkatan kualitas dan professional saya sebagai pemimpin pembelajaran.

 

Selanjutnya saya mencoba menganailsis kasus tersebut dengan mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, dan tibalah saatnya mengambil keputusan, saya memutuskan untuk menghubungi panitia dan menyatakan kesiapan saya untuk ikut , namun kepada panitia saya samapaikan permohonan Maaf saya, karena harus mengikuti kegatan vicon sebelumnya, sehinnga terlambat tiba di tempat kegiatan. Bahkan untuk hari Minggunyapun saya minta diberi ijin keluar ruangan worshop untuk kembali mengikuti vicon PGP selama kurang lebih 2 jam.

Alhamdulillah, panitia mengijinkan.

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi moral dilema? Kalau pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Ya, sebelumnya saya penah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam situasi dilema etika, yang berbeda adalah, tehnik pengambilan keputusan yang saya lakukan sebelumnya hanya berdasar pada pertimbangan tentang benar /salah secara hukum atau berdasar rasa kasihan, sementara pada modul ini saya diarahkan dengan sangat baik untuk melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebelum mengambil keputusan, yang dilanjutkan dengan Refleksi agar saya bisa melihat seberapa efektif keputusan yang saya ambil berdampak pada kasus.

Point pentingya adalah Modul ini mengajari dan mengarahkan saya dalam pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujian keputusan dengan sangat jelas dan runtut sehingga terasa mudah untuk dipraktikkan.

  1. Bagaimana dampak mempelajari materi ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari materi dimodul ini adalh  perubahan pola pikir dan cara saya dalam menerapkan pengambilan keputusan, sebelumnya saya hanya mengambil keputusan sesuai dengan aturan atau mengikuti norma yang berkaku, atau mengikuti perasaan dan emosi saya, malah terkadang saya “situasional” namun setelah mengikuti pembelajaran dimodul ini, dengan sendirinya mindset saya berubah, saya sebagai pemimpin pembelajaran merasa lebih bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang berorientasi pada murid sehingga keputusan –keputusan tersebut mampu membantu mengoptimalkan potensi  mereka.

  1. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Sebagai seorang individu, mempelajari modul ini adalah salah satu cara meningkatkan kepribadian sebagai pribadi dan melatih diri menjadi seseorang yang bijak (wise) juga visioner  sejkaligus cerdas secara emosional dalam mengambil keputusan untuk diri dan hidupnya sendiri.

Di sisi lain Modul ini sangat penting dipelajari oleh guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran, bukan sekedar sebagai tuntutan profesionalisme tetapi agar saya bisa mengambil keputusan yang dampaknya membantu melejitkan potensi murid di sekolah lewat pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

 

6.    Apa yang Anda bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan Anda setelah Anda mempelajari modul ini?

Yang bisa lakukan untuk membuat dampak/perbedaan di lingkungan setelah Anda mempelajari modul ini adalah:

-       mensosialisasikan konsep-konsep di modul ini kepada Kepala sekolah, pengawas, dan teman sejawat di sekolah dan di KKG.

-       Giat belajar dan berlatih untuk menerapkan materi yang ada dimodul ini, terutama dalam pengujian keputusan dengan menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan dengan melibatkan pemangku kepentingan di sekoah.

-       Melakukan evaluasi dan refleksi terhadap pengambilan keputusan yang sudah saya lakukan.

  1. Selain konsep-konsep tersebut, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Selain konsep-konsep yang dipelajari di modul ini, hal-hal lain yang penting menurut saya untuk dipelajari dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah:

-     ,Strategi  menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah dan konflik 

     kepentingan

-     .Bagaimana cara menganalisis efektifitas sebuah proses pengambilan keputusan  

     yang telah diambil ?

-      Bagaimana hubungan antara nilai-nilai dan budaya sekolah dalam pengambilan 

     keputusan di dalam  situasi dilema etika?

-    Selain kesembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan tersebut, apa lagi yang sebaiknya dilakukan oleh pemimpin pembelajaran dalam memastikan keputusannya adalah keputusan yang tepat?