https://enny4.blogspot.com/2020/12/rancangan-kegiatan-aksi-nyata-modul-11.html
Tugas 1.4.a.7
Demonstrasi Kontekstual- Menerapkan Budaya Positif
Menyusun Kesepakatan Kelas
Dalam penyusunan kesepakatan
kelas ini, Anda akan mendemonstrasikan hasil (berupa foto kesepakatan
kelas) dan prosesnya (berupa esai maksimal 500 kata). Tulislah esai
tersebut sehari setelah kesepakatan kelas dibuat agar Anda dapat mengamati
perubahan yang terjadi di kelas, sekecil apapun perubahan itu. Pastikan Anda
mencantumkan hal-hal berikut dalam esai Anda.
- Langkah-langkah yang
Anda lakukan dalam menyusun kesepakatan kelas secara runut dan jelas
- Tindakan yang Anda
lakukan sebagai guru kepada murid
- Percakapan Anda
sebagai guru dengan murid ketika menyusun kesepakatan kelas
- Respons murid dalam
berperilaku setelah kesepakatan kelas dibuat
- Tantangan atau
keberhasilan yang ditemui selama proses tersebut
Sejalan
dengan Filosofi
Pemikiran Ki Hajar Dewantara, kemerdekaan menjadi isu kritis
dalam Pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan
hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai
bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa
bersandar atas kekuatan sendiri.
Untuk bisa sampai pada tujuan tersebut, murid perlu
diasuh lewat pendidikan
karakter yang bukan
sekedar
mendorong murid untuk sukses secara moral maupun akademik di lingkungan
sekolah, tetapi juga untuk menanam moral yang baik pada diri murid ketika sudah
terlibat di dalam masyarakat sehingga menjadi orang yang bertanggung jawab.
Salah satu makna dari memanusiakan hubungan adalah dengan membuat kesepakatan kelas agar siswa merasa
dilibatkan dalam pembelajaran, merasa lebih dipahami, lebih bertanggung jawab,
dan menumbuhkan karakter positif -
Kesepakatan kelas bukan hanya sekedar peraturan
dalam kelas yang harus ditaati murid dan memberi hukuman bagi yang
melanggarnya. Dalam membuat kesepakatan kelas, dibutuhkan keterlibatan antara
guru dan murid untuk saling menyepakati bagaimana kondisi kelas yang kondusif.
Program ini akan memandu peserta dalam merancang langkah-langkah kesepakatan
kelas yang memanusiakan murid. Harapannya, murid akan menjalankan secara
konsisten hal-hal yang telah disepakati dan merefleksikan dengan penuh
keterbukaan dalam bentuk disiplin diri
Di sinilah letak pentingnya menumbuhkan disiplin
kepada murid. Dalam penerapan pendisiplinan, kita tetap bisa memberikan alternatif
positif kepada murid, tetapi harus dilakukan secara teratur, berkelanjutan,
konsisten dan bertekad pada proses.
Langkah pertama dalam menerapkan pendekatan
disiplin positif adalah mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin
dicapai sekolah. Daripada berfokus pada masalah dan perilaku buruk, maka saya
akan mulai dengan melihat hal-hal
positif yang sudah berhasil di sekolah. Ini menjadi landasan untuk membangun
visi bersama bagi komunitas sekolah yang berpusat pada diri murid dan
pemberdayaannya.
Tiba saatnya menyusun kesepakatan kelas. Saya mulai
menyusun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas
4 Andi Depu. Tepatnya hari Selasa, tanggal 8 Desember 2020, saya menyampaikan
pemberitahuan dan rencana meeting lewat Google Meet di What’s App Group.
Anak-anak sepakat memilih waktu setelah selesai sholat isya, pukul 19.30.
(wita). Saya menyiapkan konsep berupa contoh-contoh disiplin positif,
khawatirnya murid-murid saya belum ada bayangan tentang kesepakatan kelas.
Meeting virtual kami mulai lewat dari
waktu yang telah disepakati,. Pukul 19.40, anak-anak mulai bergabung ke
kelas virtual, Dari 41 orang murid yang menjadi bagian kelas 4 Andi Depu di
mana saya menjadi wali kelas, hanya ada 18 orang yang bisa ikut meeting, tetapi
murid-murid yang tidak bisa bergabung karena terkendala jaringan, tetap
menyampaikan ide-ide mereka lewat Voice note atau lewat chat. Berikut tahapan
yang kami lalui dalam menyusun kesepakatan Kelas .
Tahap 1, Tanya pendapat Murid
Saya
mulai membuka forum, menyapa murid, tanya-jawab khabar dan menyampaikan tujuan
meeting malam itu. Beberapa murid menyampaikan
masalah yang dihadapinya saat berada di kelas serta harapan kelas yang
membuatnya nyaman, Hal ini dilakukan secara individu, disampaikan secara
langsung, tapi ada beberapa orang murid yang jaringannya selalu terputus
mengetik di media Chat ataupun lewat WAG. Dari sekian banyak Chat yang masuk,
tersebutlah nama Alo dan Daffa yang sering usil mengganggu teman di keas. Ada
juga murid yang tidak senang duduk berdekatan dengan teman-laki-laki, katanya
malu.
Tahap 2, Tanyakan ide dari murid untuk mencapai
kelas impiannya
Merespon
keluhan murid, saya kemudian bertanya tentang harapan, tentang kelas, apa yang mereka
harapkan, tentang kondisi kelas,tentang guru impian tentang ide dari murid untuk mencapai impian mereka. Murid –muridpun
menjawab lewat Chat, dan saya menuliskan di slide harapan-harapan tersebut
supaya murid-murid saya bisa membaca dengan jelas apa yang disampaikan oleh
teman-temannya. Masukan dari murid
diantaranya adalah memberi salam saat masuk kelas, Saling menghargai, rajin
membaca , tidak membeda-bedakan agama, menjaga kebersihan kelas, berdo’a
sebelum dan sesudah belajar, menjadi juara Porseni.
Tahap 3, Ambil kesimpulan dari ide murid,
Dari sekian banyak ide harapan yang disampaikan anak-anak di kelas, saya
berusaha memperjelas kepada mereka tentang kesepakatan kelas yang berisi aturan yang nisa mereka percaya dan bisa dilakukan baik
sebagai individu maupun dalam kelompok, ,Selanjutnya kami melingkari
point-point penting dari ide-ide yang sudah masuk memastikan semua daftar
memang dibutuhkan dalam proses belajar – mengajar, jika ada yang terlewati,
menambahkan tujuan lain yang terlupakan atau menghapus tujuan yang tidak utama.
Tahap 4’Ubah ide menjadi kesepakatan kelas.
Poin-point
yang sudah dilingkari, kami tetapkan sebagai “Kesepakatan Kelas”,. Langkah
berikutnya, saya meminta anak-anak untuk bersabar karena untuk selanjutnya Bu
Guru akan membuat poster dan menuliskan
kesepakatan kelas tersebut menjadi sebuah poster. Untuk pembuatan poster
ini,kami agak lama di sesi desain.
Anak-anak perempuan berbeda selera dengan anak laki-laki dalam hal pemilihan
warna, tapi pada akhirnya, anak laki-laki setuju dengan pilihan anak perempuan
karena mereka kalah suara, hehhehehe., Anak perempuan lebih banyak jumlahnya.
Tahap 5, Tanda tangani kontrak kesepakatan
Untuk menciptakan rasa memiliki, seharusnya saya memberi waktu bagi semua murid menanda tangani dan menuliskan nama atau tanda pada kontrak kesepakatan, termasuk saya sebagai guru. Di sini saya menemukan tantangan .Kondisi pandemic seperti sekarang tidak membolehkan kami mengumpulkan murid di sekolah, maka poster tersebut untuk sementara belum di tanda tangani sampai tiba waktu sekolah tatap muka. Saya mencoba memancing ide-ide kreatif anak-anak, meneganai hal tersebut. Akhirnya kami sepakat memasang poster “Kesepakatan Kelas “ sebagai foto profil Classroom dan WAG Kelas. Timbul masalah lagi, Poster tidak bias digunakan untuk Profil Classroomnya karena sizenya yang kecil, bisanya di WA, itupun tampilannya tidak maksimal seperti berikut ini.
Tampilannya
tidak sempurna, Ini juga jadi tantangan buat kami.
Tahap
6 Lihat bersama Kontrak kesepakatan bersama
Kami melakukan Refleksi terkait
kontrak kesepakatan kelas yang sudah di susun. Saya menanyakan kepada
muris-murid saya, terkait penerapan aturan dan kemungkinan masih adakah hal
yang perlu diubah atau diperbaiki. Apakah kesepakatan kelas sudah bisa
dilakukan ? Anak-anak sepakat menjawab “ Bisa Bu Guru”. Dengan demikian,
Meeting pun selesai, Kelas Virtual di tutup dengan bersama –sama membaca
Alhamdulillah karena kami sudak berhasil menyusun Kesepakatan Kelas, dan
terhitung sejak mala mini, kelas 4 Andi Depu memiliki “Kesepakatan Kelas “
berbentuk poster.
Demikianlah proses Penyusunan Kesepakatan Kelas 4
Andi Depu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar