Jumat, 13 November 2020

Koneksi Antar Materi Modul 1.2

 TUGAS 1.2.b.10/11

1.     Refleksi tentang Pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa peran pendidikan hanyalah sebagai penuntun hidup anak, sedangkan bagaimana hidup dan tumbuhnya anak tersebut di luar dari kendali dan kehendak seorang guru. Anak hidup sesuai dengan kondratnya sendiri.

Pendidikan hendaknya mampu menciptakan tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila yang berbudaya membutuhkan Guru yang benar- benar bisa menerjemahkan tiga semboyan pendidikan ke dalam aksi-aksi nyata yang harus dilakukan secara konsisten

Oleh karena itu,, guru tidak sebatas pengajar di depan kelas, dibutuhkan kompetensi kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) yang mencakup komunitas praktik, pembelajaran sosial dan emosional, pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai perkembangan murid, dan kompetensi lain dalam pengembangan diri dan sekolah. Kompetensi yang tertuang dalam praktik pembelajaran yang berpihak pada murid dengan model pembelajaran yang berbasis pengalaman hingga  terwujud guru dan murid merdeka yang menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan pemimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah.

Dari konsep ke strategi, menerapkan  pembelajaran bermakna  dan joyful Learning dengan prinsip pembelajaran  KHD  yang merupakan embrio  Merdeka Belajar adalah  hal penting yang harus disegerakan, selanjutnya mengimplementasikan Kolaborasi profil pelajar Pancasila” kreatif dengan Budaya daerah dalam bentuk komunikasi terbuka dan  reaktif di kelas, secara terbuka memberikan pilihan kepada murid untuk menentukan cara dan metode yang akan  mereka lakukan untuk menyelesaikan tugas –tugas belajar ataupun proyeksi mereka sendiri.

Dasar-dasar pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara (Majalah Keloerga, 1937), menjelaskan secara dalam apa arti dan maksud pendidikan. Beliau membedakan antara pendidikan dan pengajaran, dimana pengajaran adalah suatu proses atau cara memberi ilmu atau pengetahuan, sedangkan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat

Sekolah sebagai tempat pendidikan harus menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kodrat keadaan murid-murid tersebut. Memahami kodrat anak sebagai motivasi intrinsik belajar mereka, berarti sekolah harus menyelenggarakan pendidikan yang berupaya memenuhi tumbuh kembang anak, mengakomodir perbedaan individual anak dan memandang anak dengan rasa hormat. Ki Hajar Dewantara menyebutnya sebagai “menghamba pada anak”

Disinilah pentingnya Menumbuhkan motivasi intrinsik murid untuk mewujudkan pelajar Pancasila yang bisa menerima perbedaan dan keberagaman di tengah masyarakat pluralis agar persatuan dan kesatuan semakin kuat melalui praktik-praktik  baik di dalam atau di luar kelas.

Secara keilmuan “Motivasi Intrinsik” adalah dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang dalam melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, timbul dalam diri anak tanpa memerlukan rangsangan dari luar, karena itu sangat penting bagi guru untuk mengenali karakteristik murid agar bisa  menumbuhkan motivasi intrinsic ini pada anak sebagai bagian dari tujuan pendidikan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Seorang murid yang belajar dengan tekun karena kemauan pribadinya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau untuk mengembangkan potensi dirinya sebagai bekal kehidupanya di dalam masyarakat adalah contoh tindakan yang didasari motivasi intrinsik. Perbuatan yang didorong oleh motivasi intrinsik akan cenderung menjadi perilaku yang menetap.

Menjadi sangat penting karena :

·               Murid selain sebagai manusia individu juga adalah sebagai anggota masyarakat yang hidup bermasyrakat, karena itu harus dapat menerima keberagaman dan harus dapat bertoleransi dalam perbedaan

·               Membangun hubungan baik antar murid dengan penanaman moral dan nilai kemanusiaan dalam pembelajaran

·               Menghindari kesenjangan sosial-keagamaan
.

Motivasi intrinsic diharapkan bisa muncul dan memberi energi yang besar untuk perubahan dan kemajuan seorang murid. Seorang pendidik harus mampu memetakan karakteristik murid sebagai modal untuk merancang program-program pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan mereka sekaligus mendorong motivasi intrinsic  sang murid. Motivasi intrinsic dipercaya memiliki pengaruh yang lebih dominan dibanding motivasi ekstrinsik dalam tumbuh kembang murid kedepannya.

Untuk mewujudkan hal tersebut maka seorang pendidik harus mampu atau memiliki nilai nilai dan peran yang signifikan seperti :  kemandirian, reflektif, kolaborasi, inovatif dan. Kelima nilai tersebut saling terkait. Kemandirian adalah sifat seorang guru yang mampu mendesain secara mandiri pembelajaran, serta dalam pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Pada perjalanannya,seorang pendidik meskipun memiliki sikap mandiri,  seorang guru penggerak juga harus mampu berkolaborasi, ini tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lainnya. Nilai kemandirian dan kolaborasi jika dikuasai dengan baik maka akan melahirkan kreatifitas dalam menciptakan inovasi - inovasi yang akan memicu murid tumbuh menjadi kreatif dan inovatif . Dan Ketika ke empat nilai itu sudah dimiliki maka yang terakhir nilai reflektif sebagai evaluasi diri terhadap apa yang telah dimiliki dan dilakukan agar kedepannya menjadi lebih baik.

Dengan nilai-nilai tersebut serta peran guru penggerak maka kedepan diharapkan pembelajaran akan semakin baik dan bermakna yang mampu mendorong atau memunculkan motivasi-motivasi intrinsic yang ada dalam diri murid.

Inilah hakikat dari pernyataan “Menghamba Pada Anak “, Bahwa segala bentuk rancangan, peran, nilai yang dimiliki seorang guru pada akhirnya harus bermuara pada kenyamanan, kesenangan sang anak dalam mengikuti Pendidikan.


2 komentar: