TUGAS 1.2.b.10/11
1. Refleksi tentang Pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa peran pendidikan hanyalah sebagai penuntun hidup anak, sedangkan bagaimana hidup dan tumbuhnya anak tersebut di luar dari kendali dan kehendak seorang guru. Anak hidup sesuai dengan kondratnya sendiri.
Pendidikan hendaknya
mampu menciptakan tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif
dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta
menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan
profil Pelajar Pancasila yang berbudaya membutuhkan Guru yang benar- benar bisa
menerjemahkan tiga semboyan pendidikan ke dalam aksi-aksi nyata yang harus
dilakukan secara konsisten
Oleh karena itu,, guru
tidak sebatas pengajar di depan kelas, dibutuhkan kompetensi kepemimpinan
pembelajaran (instructional leadership) yang mencakup komunitas praktik,
pembelajaran sosial dan emosional, pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai
perkembangan murid, dan kompetensi lain dalam pengembangan diri dan sekolah.
Kompetensi yang tertuang dalam praktik pembelajaran yang berpihak pada murid
dengan model pembelajaran yang berbasis pengalaman hingga terwujud guru dan murid merdeka yang menjadi
pembelajar sepanjang hayat, dan pemimpin pembelajaran dalam pengembangan
sekolah.
Dari
konsep ke strategi, menerapkan pembelajaran
bermakna dan joyful Learning dengan prinsip
pembelajaran KHD yang merupakan embrio Merdeka Belajar adalah hal penting yang harus disegerakan,
selanjutnya mengimplementasikan
Kolaborasi profil pelajar Pancasila” kreatif dengan Budaya daerah dalam bentuk
komunikasi terbuka dan reaktif di kelas,
secara terbuka memberikan pilihan kepada murid untuk menentukan cara dan metode
yang akan mereka lakukan untuk
menyelesaikan tugas –tugas belajar ataupun proyeksi mereka sendiri.
Dasar-dasar
pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara (Majalah Keloerga, 1937), menjelaskan
secara dalam apa arti dan maksud pendidikan. Beliau membedakan antara
pendidikan dan pengajaran, dimana pengajaran adalah suatu proses atau cara memberi
ilmu atau pengetahuan, sedangkan pendidikan adalah menuntun segala kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai
anggota masyarakat
Sekolah sebagai tempat pendidikan
harus menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kodrat
keadaan murid-murid tersebut. Memahami kodrat anak sebagai motivasi intrinsik
belajar mereka, berarti sekolah harus menyelenggarakan pendidikan yang berupaya
memenuhi tumbuh kembang anak, mengakomodir perbedaan individual anak dan memandang
anak dengan rasa hormat. Ki Hajar Dewantara menyebutnya sebagai “menghamba pada
anak”
Disinilah pentingnya Menumbuhkan
motivasi intrinsik murid untuk mewujudkan pelajar Pancasila yang bisa menerima
perbedaan dan keberagaman di tengah masyarakat pluralis agar persatuan dan
kesatuan semakin kuat melalui praktik-praktik
baik di dalam atau di luar kelas.
Secara
keilmuan “Motivasi Intrinsik” adalah dorongan yang berasal dari dalam diri
seseorang dalam melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu,
timbul dalam diri anak tanpa memerlukan rangsangan dari luar, karena itu sangat
penting bagi guru untuk mengenali karakteristik murid agar bisa
menumbuhkan motivasi intrinsic ini pada anak sebagai bagian dari tujuan
pendidikan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Seorang
murid yang belajar dengan tekun karena kemauan pribadinya untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan atau untuk mengembangkan potensi dirinya sebagai bekal
kehidupanya di dalam masyarakat adalah contoh tindakan yang didasari motivasi
intrinsik. Perbuatan yang didorong oleh motivasi intrinsik akan cenderung
menjadi perilaku yang menetap.
Menjadi sangat penting karena :
·
Murid selain sebagai manusia
individu juga adalah sebagai anggota masyarakat yang hidup bermasyrakat, karena
itu harus dapat menerima keberagaman dan harus dapat bertoleransi dalam
perbedaan
·
Membangun hubungan baik antar murid
dengan penanaman moral dan nilai kemanusiaan dalam pembelajaran
·
Menghindari kesenjangan sosial-keagamaan
.
Motivasi intrinsic
diharapkan bisa muncul dan memberi energi yang besar untuk perubahan dan
kemajuan seorang murid. Seorang pendidik harus mampu memetakan karakteristik
murid sebagai modal untuk merancang program-program pembelajaran yang mampu mengakomodasi
kebutuhan mereka sekaligus mendorong motivasi intrinsic sang murid. Motivasi intrinsic dipercaya
memiliki pengaruh yang lebih dominan dibanding motivasi ekstrinsik dalam tumbuh
kembang murid kedepannya.
Untuk mewujudkan hal
tersebut maka seorang pendidik harus mampu atau memiliki nilai nilai dan peran
yang signifikan seperti : kemandirian,
reflektif, kolaborasi, inovatif dan. Kelima nilai tersebut saling terkait.
Kemandirian adalah sifat seorang guru yang mampu mendesain secara mandiri
pembelajaran, serta dalam pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Pada
perjalanannya,seorang pendidik meskipun memiliki sikap mandiri, seorang guru penggerak juga harus mampu
berkolaborasi, ini tidak terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial
yang senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lainnya. Nilai kemandirian dan
kolaborasi jika dikuasai dengan baik maka akan melahirkan kreatifitas dalam
menciptakan inovasi - inovasi yang akan memicu murid tumbuh menjadi kreatif dan
inovatif . Dan Ketika ke empat nilai itu sudah dimiliki maka yang terakhir
nilai reflektif sebagai evaluasi diri terhadap apa yang telah dimiliki dan
dilakukan agar kedepannya menjadi lebih baik.
Dengan nilai-nilai tersebut serta peran
guru penggerak maka kedepan diharapkan pembelajaran akan semakin baik dan
bermakna yang mampu mendorong atau memunculkan motivasi-motivasi intrinsic yang
ada dalam diri murid.

Kereen Kanda, terbaik memang. tetap berkarya demi kemajuan pendidikan
BalasHapusLet's support each other
Hapus